JAKARTA,
- Pemerintah dalam hal ini Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) diharapkan bersikap tegas mengambil langkah-langkah sistematik penyelesaian dalam penyelesaian kisruh PSSI. Hal itu merupakan salah satu dari sepuluh pernyataan keras yang disampaikan pendukung Persija Jakarta atau The Jakmania dalam menyikapi kisruh PSSI jelang Kongres Pemilihan Ketua Umum yang akan digelar pada 29 April mendatang.
Sekretaris Umum The Jakmania, Richard Achmad, menyatakan, pihaknya telah menemui pemerintah untuk membahas masalah yang terjadi di PSSI. "Dua pekan lalu, kami ketemu Menpora. Namun, tidak ada tanggapannya," kata Richard saat ditemui wartawan di Sekretariat The Jakmania, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (12/3/2010).
Richard juga berpendapat, pemerintah tidak perlu takut terhadap sanksi FIFA dengan melakukan intervensi terhadap PSSI. "Ini bukanlah kondisi ideal, maka diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang cepat, tegas, dan berani karena ini adalah langkah penyelamatan organisasi," tegas Richard.
The Jakmania juga menentang adanya Komite Penyelamatan Persepakbolaan Nasional (KPPN) dan Forum Pemilik Suara Resmi PSSI (FPSP). Mereka menilai, manuver kedua organisasi itu hanya menambah persoalan di tubuh PSSI.
Berikut 10 imbauan keras The Jakmania atas nama masyarakat dan suporter seluruh Indonesia: 1. Sepak bola (PSSI) adalah milik masyarakat Indonesia. 2. FIFA bukanlah konsorsium dewa-dewa yang harus disembah-sembah dan ditaati secara membabi buta. 3. Pemerintah (Menpora, KONI/KOI) harus bersikap tegas dalam mengambil langkah-langkah sitematik penyelesaian kisruh PSSI ini dan jangan mencla-mencle lagi. 4. Pemilik suara (klub dan pengda) jangan jadi banci dan bersikap pragmatis. Kalian penentu (hak suara) masa depan PSSI ada di tangan kalian. Jangan jadi banci! 5. Rezim Nurdin Halid-Nugraha Besoes, berhentilah menjadi manusia yang tidak tahu malu. Ini bukan rimba belantara. PSSI milik masyarakat. Bersikap jiwa besar dan mundur sekarang juga. Jangan berlindung dalam aturan organisasi.
Selanjutnya, 6. Liga Primer Indonesia (LPI) janganlah gede rasa, seakan-akan dewa penyelamat yang dapat menyelesaikan semua kisruh dan keterpurukan PSSI. 7. KPPN dan FPSP hentikan manuver yang hanya menambah persoalan baru. 8. Sanksi FIFA bukanlah kiamat dan akhir dari sepak bola Indonesia. 9. Ini bukan kondisi ideal, maka diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang cepat, tegas, dan berani karena ini adalah langkah penyelamatan organisasi. 10. Hanya ketegasan dan keberanian serta jiwa besar yang dibutuhkan dalan penyelesaian kisruh ini!
Sabtu, 12 Maret 2011
D.U.L.A.T Arema Akan Bubar, Pemain Menyerahkan ke Aremania
Malang (beritajatim.com) – Gonjang-ganjing isu Arema Malang terancam bubar sudah terendus ke telinga para pemain Arema yang sekarang ini lagi menjalani laga away ke Wamena.
Namun pemain menilai kalau Arema dikabarkan akan bubar, saya tak yakin. Kalau Arema memang akan bubar, pemain menyerahkan sepenuhnya kepada Aremania.
"Kalau Arema diisukan akan bubar, saya tak yakin. Menurut saya, kalau Arema akan dibubarkan karena krisis keuangan, harus minta persetujuan Aremania,” kata pemain yang diketahui mulai bergabung dengan Singo Edan sejak 01 September 2009 lalu.
Menurutnya, bicara soal kecewa, seluruh pemain memang kecewa dengan sikap manajemen. "Kalau soal kecewa, semua pemain kecewa semua. Namun, pemain sepakat akan tetap maksimal dalam pertandingan dengan Persiwa Wamena nanti. Kita tak mau malu kedua kalinya,” akunya, saat dihubungi beritajatim.com, Rabu (09/03/2011), via telepon.
Arema katanya, harus mampu mengulang sejarah musim lalu, yakni mampu menaklukkan Persiwa Wamena di kandang dengan skor 0-2, saat Arema diasuh oleh Robert Albert. “Pemain akan main maksimal. Soal hasil kita lihat nanti,” katanya.
Namun, pemain yang sudah menikah ini tak bisa memungkiri soal haknya yang belum dibayar oleh manajemen. “Kita tak mau dibohongi lagi oleh manajemen. Sudah sering manajemen membohongi pemain,” keluh pria yang memiliki berat badan 65 Kg ini.
Lebih lanjut pria yang gemar makan Bakso sebagai menu favoritnya menambahkan, pihaknya hanya menyayangkan sikap manajemen yang tak kunjung membayar gaji pemain itu. “Pemain itu harus menanggung anak istri. Wajar kalau menuntut haknya,” katanya.
Sementara itu, menurut pemain lainnya, yang juga tak mau mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan, kalau sudah berada di lapangan, pemain profesional harus tetap main maksimal. “Karena sudah berada di lapangan, mau gimana lagi. Ya kita harus siap main walaupun gaji belum dibayar,” katanya.
Dia juga komitmen tak akan malu lagi akibat kalah melawan Persipura Jayapura dengan skor 6-1, Senin (07/03/2011) lalu. “Kita harus mengulang sejarah musim lalu, yang Arema mampu mengalahkan Persiwa di kandang 0-2,” katanya.
Namun pemain menilai kalau Arema dikabarkan akan bubar, saya tak yakin. Kalau Arema memang akan bubar, pemain menyerahkan sepenuhnya kepada Aremania.
"Kalau Arema diisukan akan bubar, saya tak yakin. Menurut saya, kalau Arema akan dibubarkan karena krisis keuangan, harus minta persetujuan Aremania,” kata pemain yang diketahui mulai bergabung dengan Singo Edan sejak 01 September 2009 lalu.
Menurutnya, bicara soal kecewa, seluruh pemain memang kecewa dengan sikap manajemen. "Kalau soal kecewa, semua pemain kecewa semua. Namun, pemain sepakat akan tetap maksimal dalam pertandingan dengan Persiwa Wamena nanti. Kita tak mau malu kedua kalinya,” akunya, saat dihubungi beritajatim.com, Rabu (09/03/2011), via telepon.
Arema katanya, harus mampu mengulang sejarah musim lalu, yakni mampu menaklukkan Persiwa Wamena di kandang dengan skor 0-2, saat Arema diasuh oleh Robert Albert. “Pemain akan main maksimal. Soal hasil kita lihat nanti,” katanya.
Namun, pemain yang sudah menikah ini tak bisa memungkiri soal haknya yang belum dibayar oleh manajemen. “Kita tak mau dibohongi lagi oleh manajemen. Sudah sering manajemen membohongi pemain,” keluh pria yang memiliki berat badan 65 Kg ini.
Lebih lanjut pria yang gemar makan Bakso sebagai menu favoritnya menambahkan, pihaknya hanya menyayangkan sikap manajemen yang tak kunjung membayar gaji pemain itu. “Pemain itu harus menanggung anak istri. Wajar kalau menuntut haknya,” katanya.
Sementara itu, menurut pemain lainnya, yang juga tak mau mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan, kalau sudah berada di lapangan, pemain profesional harus tetap main maksimal. “Karena sudah berada di lapangan, mau gimana lagi. Ya kita harus siap main walaupun gaji belum dibayar,” katanya.
Dia juga komitmen tak akan malu lagi akibat kalah melawan Persipura Jayapura dengan skor 6-1, Senin (07/03/2011) lalu. “Kita harus mengulang sejarah musim lalu, yang Arema mampu mengalahkan Persiwa di kandang 0-2,” katanya.
Jakmania Tetap Kritisi Siapapun Ketum PSSI
JAKARTA - Ketika isu revolusi PSSI mencuat, mendekati kembalinya pencalonan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI, The Jakmania mengklain sudah lama melakukan hal ini sejak 2004. Mereka bahkan akan tetap di luar dan tak henti mengkritisi siapapun Ketua Umum PSSI terpilih nanti.
"Siapapun nanti yang terpilih sebagia Ketua Umum PSSI, tetap akan kita kritisi. Revolusi ini akan kita kawal sampai kemana arahnya," ujar Ketua Umum The Jakmania Lorico Ranggamone dalam jumpa pers kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (12/3/2011).
Lorico menambahkan, The Jakmania tak mau terbawa arus yang mengklaim paling mumpuni menangani persepakbolaan nasional seperti munculnya beberapa elemen yang terjadi sekarang. Lorico menegaskan The Jakmania memilih berada di luar.
Kontribusinya menampung aspirasi soal revolusi PSSI tersbeut, The Jakmania memilih mendirikan Posko Revolusi PSSI. Posko inilah yang akan menampung pengaduan, keluh kesah elemen bawah seperti suporter dan masyarakat pecinta sepakbola tanah air.
"Kita bersedia menerima dan lapang dada kepada siapapun. The Jakmania bersedia di garda depan dalam revolusi PSSI. Mudah-mudahan adanya posko ini yang prorevolusi terus berdiskusi dan bersilaturahmi dengan kita," ungkapnya.
"Siapapun nanti yang terpilih sebagia Ketua Umum PSSI, tetap akan kita kritisi. Revolusi ini akan kita kawal sampai kemana arahnya," ujar Ketua Umum The Jakmania Lorico Ranggamone dalam jumpa pers kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (12/3/2011).
Lorico menambahkan, The Jakmania tak mau terbawa arus yang mengklaim paling mumpuni menangani persepakbolaan nasional seperti munculnya beberapa elemen yang terjadi sekarang. Lorico menegaskan The Jakmania memilih berada di luar.
Kontribusinya menampung aspirasi soal revolusi PSSI tersbeut, The Jakmania memilih mendirikan Posko Revolusi PSSI. Posko inilah yang akan menampung pengaduan, keluh kesah elemen bawah seperti suporter dan masyarakat pecinta sepakbola tanah air.
"Kita bersedia menerima dan lapang dada kepada siapapun. The Jakmania bersedia di garda depan dalam revolusi PSSI. Mudah-mudahan adanya posko ini yang prorevolusi terus berdiskusi dan bersilaturahmi dengan kita," ungkapnya.
The Jak Tuding PSSI Bohongi Publik
JAKARTA,
- Pendukung Persija Jakarta atau akrab yang disebut The Jakmania menuding PSSI telah membohongi publik guna mempertahankan kekuasaannya. "Kita sama-sama mengetahui bahwa PSSI akan mencari celah untuk mempertahankan status quo," kata Sekretaris Umum The Jakmania, Richard Achmad, saat ditemui di Sekretariat The Jakmania di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (12/3/2011).
PSSI memang diduga melakukan kebohongan publik dengan salah menafsirkan terhadap pasal kriminal. Hal itu berawal dari surat FIFA kepada PSSI pada 11 Oktober 2010. Dalam surat yang ditandatangani Direktur Legal FIFA Marco Viliger dan Kepala Bagian Legal Fabienne Moser-Frei menegaskan, calon anggota Komite Eksekutif PSSI adalah orang yang tidak dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal.
Surat FIFA tersebut merupakan respon terhadap surat Sekjen PSSI Nugraha Besoes yang dikirimkan 27 September 2010. Dalam surat tersebut, Nugraha Besoes menerangkan bahwa Statuta PSSI pasal 35 ayat 4 berbunyi, "..., mereka harus aktif di sepak bola sekurang-kurangnya lima tahun dan harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas sesuatu tindakan kriminal pada saat kongres, serta berdomisili di wilayah Indonesia."
Jelas ada perbedaan signifikan pada surat itu. Surat FIFA hanya menyebut tidak dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal, tanpa menyebut waktu. Artinya, berlaku dahulu, kini, dan yang akan datang. Sedangkan surat Nugraha Besoes berisi penegasan, larangan terlibat tindakan kriminal hanya sebatas kongres.
"Itu bukan pemelintiran. Namun, kebohongan publik. Sayangnya, perwakilan FIFA yang menghadiri Kongres 2009 lalu, meloloskan pasal tersebut," kata mantan Ketua Umum, The Jakmania, Danang Ismartani.
- Pendukung Persija Jakarta atau akrab yang disebut The Jakmania menuding PSSI telah membohongi publik guna mempertahankan kekuasaannya. "Kita sama-sama mengetahui bahwa PSSI akan mencari celah untuk mempertahankan status quo," kata Sekretaris Umum The Jakmania, Richard Achmad, saat ditemui di Sekretariat The Jakmania di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (12/3/2011).
PSSI memang diduga melakukan kebohongan publik dengan salah menafsirkan terhadap pasal kriminal. Hal itu berawal dari surat FIFA kepada PSSI pada 11 Oktober 2010. Dalam surat yang ditandatangani Direktur Legal FIFA Marco Viliger dan Kepala Bagian Legal Fabienne Moser-Frei menegaskan, calon anggota Komite Eksekutif PSSI adalah orang yang tidak dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal.
Surat FIFA tersebut merupakan respon terhadap surat Sekjen PSSI Nugraha Besoes yang dikirimkan 27 September 2010. Dalam surat tersebut, Nugraha Besoes menerangkan bahwa Statuta PSSI pasal 35 ayat 4 berbunyi, "..., mereka harus aktif di sepak bola sekurang-kurangnya lima tahun dan harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas sesuatu tindakan kriminal pada saat kongres, serta berdomisili di wilayah Indonesia."
Jelas ada perbedaan signifikan pada surat itu. Surat FIFA hanya menyebut tidak dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal, tanpa menyebut waktu. Artinya, berlaku dahulu, kini, dan yang akan datang. Sedangkan surat Nugraha Besoes berisi penegasan, larangan terlibat tindakan kriminal hanya sebatas kongres.
"Itu bukan pemelintiran. Namun, kebohongan publik. Sayangnya, perwakilan FIFA yang menghadiri Kongres 2009 lalu, meloloskan pasal tersebut," kata mantan Ketua Umum, The Jakmania, Danang Ismartani.
Kawal Revolusi PSSI, Jakmania Dirikan Posko
Menjaga semangat revolusi agar tak masuk angin, The Jakmania mendirikan posko revolusi PSSI, di Kantor Sekretariat Jakmania, Lebak Bulus, Jakarta. Mengawal perubahan di tubuh PSSI hingga tuntas menjadi tujuan utama.
“Jakmania konsisiten menjadi barisan terdepan revolusi PSSI. Apapun resikonya sudah kami pikirkan matang-matang. Dengan adanya posko ini, teman-teman suporter di daertah bisa mengakses informasi perkembangan terkini revolusi PSSI,” ujar Ketua Umum Jakmania, Larico Ranggamone, di Sekretariat Jakmania, Jakarta, Sabtu (12/3).
“Lahirnya posko ini dilandaskan atas, revolusi yang sudah bergulir harus dikawal sehingga dapat berjalan dengan baik. Tentu dengan semangat yang baik pula. Kami membangun posko bukan atas nama pribadi, tapi suporter Indonesia. Ini bentuk kepedulian kami sekaligus merangsang suporter lain membentuk posko serupa di tempatnya,” tambah Larico.
Senada dengan Larico, Pembina sekaligus mantan Ketua Umum Jakmania, Danang A. Ismartani, menuturkan Jakmania harus mengawal revolusi hingga titik akhir, bahkan pasca revolusi itu. “Jakmania tidak pernah mengawali revolusi, namun akan terus mengikuti dan tampil memberikan kontribusi.”
“The Jak terbuka sebagai pusat informasi terkait revolusi PSSI. Biasanya kalau ada gerakan dua sampai tiga bulan ke depan akan masuk angin. Orang-orang yang dulu kritis setelah dikasih angin segar oleh lawan lantas melempem. Posko ini terbentuk untuk mengantisipasi hal itu. Kami berusaha agar semangat revolusi tidak luntur,” kata Danang.
Sementara itu, Sekretaris Umum Jakmania, Richard Achmad mengungkapkan, bentuk relaitas posko ini sebagai tempat atau wadah bukan hanya Jakmania, namun juga suporter lain dan masyarakat pencinta sepak bola mengawal revolusi yang sudah bergulir.
“Kami ingin semuanya duduk bareng mengawal revolusi. Jangan sampai orang di atas bermain, namun kita hanya terdiam dan tidur. Kami sediakan tempat, waktu, dan ruang di sini. Target kami bukan hanya Nurdin Halid, tapi bagaimana menciptakan peradaban sepak bola yang madani,” pungkasnya.
“Jakmania konsisiten menjadi barisan terdepan revolusi PSSI. Apapun resikonya sudah kami pikirkan matang-matang. Dengan adanya posko ini, teman-teman suporter di daertah bisa mengakses informasi perkembangan terkini revolusi PSSI,” ujar Ketua Umum Jakmania, Larico Ranggamone, di Sekretariat Jakmania, Jakarta, Sabtu (12/3).
“Lahirnya posko ini dilandaskan atas, revolusi yang sudah bergulir harus dikawal sehingga dapat berjalan dengan baik. Tentu dengan semangat yang baik pula. Kami membangun posko bukan atas nama pribadi, tapi suporter Indonesia. Ini bentuk kepedulian kami sekaligus merangsang suporter lain membentuk posko serupa di tempatnya,” tambah Larico.
Senada dengan Larico, Pembina sekaligus mantan Ketua Umum Jakmania, Danang A. Ismartani, menuturkan Jakmania harus mengawal revolusi hingga titik akhir, bahkan pasca revolusi itu. “Jakmania tidak pernah mengawali revolusi, namun akan terus mengikuti dan tampil memberikan kontribusi.”
“The Jak terbuka sebagai pusat informasi terkait revolusi PSSI. Biasanya kalau ada gerakan dua sampai tiga bulan ke depan akan masuk angin. Orang-orang yang dulu kritis setelah dikasih angin segar oleh lawan lantas melempem. Posko ini terbentuk untuk mengantisipasi hal itu. Kami berusaha agar semangat revolusi tidak luntur,” kata Danang.
Sementara itu, Sekretaris Umum Jakmania, Richard Achmad mengungkapkan, bentuk relaitas posko ini sebagai tempat atau wadah bukan hanya Jakmania, namun juga suporter lain dan masyarakat pencinta sepak bola mengawal revolusi yang sudah bergulir.
“Kami ingin semuanya duduk bareng mengawal revolusi. Jangan sampai orang di atas bermain, namun kita hanya terdiam dan tidur. Kami sediakan tempat, waktu, dan ruang di sini. Target kami bukan hanya Nurdin Halid, tapi bagaimana menciptakan peradaban sepak bola yang madani,” pungkasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
