Powered By Blogger

Rabu, 19 Januari 2011

ASAL MULA PERMUSUHAN VIKING DAN THE JACK

Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.

Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.

Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.

Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.

Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.

Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.

Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.

Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.

Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang bersahabat karib dengan klub penggemar sepak bola lainnya ( Bonek, Sakera, Blue Devil, The Lobster, Persikmania, Kampak FC,dll. ) tidak akan pernah berbesar kepala. Viking akan menjaga persahabatan itu sampai kapanpun. Persija pun iri dan ingin menggoyahkan persahabatan ini. Tapi Persija tidak berhasil. Sampai kapanpun kita akan satu...olisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
Inilah perseteruan abadi antara dua supporter besar di INDONESIA,khususnya di JAWA TIMUR.BONEK yg slalu totalitas terhadap tim kebanggan SOERABAJA,PERSEBAYA.Dan BONEK membuktikannya dengan slalu hadir dimanapun ketika PERSEBAYA bertanding.BONEK yg terkenal karena kenekatannya,dan kemanapun berada slalu brangkat hanya bermodalkan NEKAT.Seantero INDONESIA pasti ada komunitas BONEK,di wilayah masing".
AREMANIA merupakan salah satu julukan supporter di Malang selain NGALAMANIA.Aremania yg notabene kera Ngalam pecinta AREMA,sebuah tim yg berdiri th 84.Biarpun tidak setua PERSEBAYA,tapi bagi warga Malang merupakan salah satu tim kebanggaan mereka.Hal ini ditunjukkan Aremania dengan slalu memenuhi stadion Kanjuruhan ataupu Gajayana,dengan atraksi" atraktifnya ketika AREMA bertanding.Biarpun tidak sebanyak BONEK,tetapi Aremania mencoba untuk menjadi yg terbaik di JAWA TIMUR.
PERSETERUAN antara BONEK dan AREMANIA sudah lama terjadi,tapi anehnya mulai kapan perseteruan ini terjadi,tidak ada yg tau.Semua berjalan begitu saja seiring bergulirnya sepak bola di negeri ini.Nyanyian" olokan yg slalu membuat panas kuping pun slalu dikumandangkan kedua supporter,setiap tim kesayangan mereka bermain di kandang maupun saat tandang.Bahkan kejadian anarkis sering terjadi jika kedua tim PERSEBAYA vs AREMA bentrok di SOERABAJA ataupun di MALANG.
Kejadian yg sangat menggemparkan sepak bola INDONESIA,ketika pertandingan melawan AREMA di SOERABAJA,pada tgl 18 Oktober 2005.Dimana BONEK mengamuk,merusak,dan membakar mobil di depan stadion.Amukan BONEK terjadi ketika pertandingan akan berakhir,dan amukan BONEK merambah sampai keluar stadion,dan imbasnya mobil ANTV,mobil APARAT,dan mobil penonton yg di parkir di depan stadion ludes terbakar.Karena ulah BONEK ini,PERSEBAYA mendapatkan sanksi berlapis dari PSSI.PERSEBAYA harus turun kasta di DIVISI 1,sedangkan BONEK tidak diperbolehkan memakai atribut ketika menonton sepak bola atau PERSEBAYA selama 2 th.
Karena perseteruan yg besar ini,membuat KAPOLDA JATIM turun tangan,dan membuat peraturan yg harus di patuhi oleh kedua supporter.Jika PERSEBAYA bermain di MALANG,BONEK tidak diperbolehkan pergi ke MALANG,dan sebaliknya jika AREMA bertanding di SOERABAJA,AREMAINA tidak diperkenankan hadir di SOERABAJA.

Asal Mula Perseteruan Viking-The Jack

Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.
Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.
Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kelompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.
Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.
Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.
Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?
Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.
Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.
Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang bersahabat karib dengan klub penggemar sepak bola lainnya ( Bonek, Sakera, Blue Devil, The Lobster, Persikmania, Kampak FC,dll. ) tidak akan pernah berbesar kepala. Viking akan menjaga persahabatan itu sampai kapanpun. Persija pun iri dan ingin menggoyahkan persahabatan ini. Tapi Persija tidak berhasil. Sampai kapanpun kita akan satu…

PSSI Melanggar HAM Jika Menghukum Klub LPI

Persema Malang sama sekali tidak gentar menghadapi ancaman PSSI yang akan menghukum klub-klub peserta kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) berdasarkan surat dukungan dari Badan Sepakbola Dunia atau FIFA.
Manajer Persema Willstar Sinaga alias Willy mengatakan, Laskar Ken Arok sudah menghitung segala risiko terburuk yang akan mereka terima jauh sebelum Persema hijrah dari Liga Super Indonesia (LSI) ke LPI.
Ketua Umum Persema yang juga Wali Kota Malang Peni Suparto sudah berkali-kali menegaskan sikap untuk terus bersama LPI tanpa rasa takut sedikit pun kepada PSSI.  “Kami sudah berkomitmen dan kami pun harus ksatria menjaga komitmen itu,” kata Willy kepada Tempo, Jumat (14/1).
“Kami yakin LPI pun akan menjaga komitmennya dengan melindungi seluruh klub peserta kompetisi yang mereka gelar,” ujarnya.  Ia menegaskan, bergabung dengan LPI merupakan tindakan sadar sesadar-sadarnya, sekaligus upaya terbaik untuk ikut memajukan persepakbolaan Indonesia, karena PSSI tak bisa lagi diharap berbenah menjadi lebih baik.
Jika sanksi diberikan kepada semua klub peserta kompetisi LPI, maka PSSI bisa dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM) karena banyak pengurus, pelatih, pemain, wasit, agen pemain, dan perangkat pertandingan lainnya yang akan kehilangan nafkah.
“Itu pun jika benar PSSI berhasil membuktikan gertakannya. Tapi kami tidak takut. LPI sudah menyiapkan pengacara untuk membela kami dan itu peluang untuk mengungkapkan secara terbuka apa yang sebenarnya terjadi di persepakbolaan Indonesia (melalui pengadilan),” kata dia.
Sikap senada disampaikan Timo Scheunemann, sang pelatih. Ancaman yang disampaikan Sekretaris Jenderal PSSI Nugroho Besoes tidak memiliki dasar moral untuk ukuran sepakbola profesional.
Kehadiran LPI justru menyadarkan banyak orang bahwa klub profesional memang seharusnya tidak boleh dihidupi dengan uang rakyat melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah.
“Kami justru mengurangi beban negara dan duitnya lebih bermanfaat dipakai untuk rakyat. Pilihan Persema dan klub-klub LPI lainnya tak patut dipersalahkan dan jangan pula diancam-ancam. Kami semua bekerja profesional,” kata Timo.
Pelatih berkebangsaan Jerman yang lahir di Kediri itu meminta PSSI untuk banyak bercermin. Jika mereka benar, tentu rakyat takkan menuntut reformasi di tubuh PSSI. Ia meminta PSSI mencontoh kekompakan Komisi Tinju Indonesia dan Asosiasti Tinju Indonesia dalam membangun dunia tinju yang profesional tanpa harus saling menjatuhkan.
Para pemain Persema pun tidak mempedulikan ancaman PSSI. Robert Mark Gaspar alias Robbie Gaspar menegaskan bergabung dengan klub yang menyeberang ke LPI merupakan keputusan terbaik. Ia menyarankan PSSI lebih banyak belajar dari “PSSI” negara lain. Federasi Sepakbola Australia (FFA) saja tidak melarang Robbi merumput di Indonesia dan di mana pun. Jika PSSI melarang dirinya dan pemain lain mencari nafkah di Indonesia, PSSI sama saja melanggar HAM.
“Saya tak peduli apa pun maunya mereka. Saya pemain profesional dan punya hak untuk menentukan di mana saya bermain. Mereka harus tahu saya ini sekarang pemain LPI dan urusan saya dengan manajemen klub dan LPI, bukan lagi dengan mereka. Saya hanya ingin sepakbola itu fair play,” kata bekas pemain Persiba Balikpapan dan Sabah FA itu.
Muhammad Kamri juga sepaham dengan Robbi. Ia bertekad terus bersama Persema dan tak mau memusingkan maunya PSSI. “Saya fokus latihan saja. Kalau memang LPI dianggap melanggar, biar saja masyarakat yang menilai. Kebenaran itu akan datang,” kata dia.
Peni Suparto malah bersikap lebih tegas lagi. Ia menyebut Nugroho Besoes kekanak-kanakan. PSSI dipersilakan menjatuhkan hukuman kepada Persema.
“Saya tunggu apa bentuk sanksi dari mereka. Kami tidak takut dan takkan tinggal diam. Sepakbola Tanah Air mau dibawa maju kok malah dihalang-halangi. Apa mereka selama mampu selama ini membangun sepakbola Indonesia dengan penuh fair play dan sportif,” kata Peni.

LPI Tak Gentar Hadapi Sanksi PSSI

Liga Primer Indonesia (LPI) tetap sangsi akan keberadaan surat balasan dari Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA), meski Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menunjukkan surat FIFA yang ditandatangani Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke.
“Tidak pernah dalam dunia administrasi surat-suratan ada dua lembar surat yang di halaman berikutnya cuma ada tanda tangan saja,” kata juru bicara LPI, Abi Hasantoso, dalam diskusi di MPR/DPR, Jakarta, kemarin.
Kalaupun PSSI menjatuhkan sanksi kepada klub, pengurus, wasit, dan pemain yang tergabung dengan LPI, pihaknya tidak gentar dan siap melakukan pembelaan. “Kami siapkan pengacara untuk mereka,” katanya.
Balasan surat FIFA kepada PSSI yang dibuat di Zurich pada 11 Januari 2011 menyebutkan PSSI harus taat kepada statuta FIFA. Pelanggaran terhadap hal tersebut bisa dikenai sanksi.
Menanggapi kesangsian atas keabsahan surat FIFA tersebut, Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes menunjukkan kejengkelannya. “Mungkinkah Nugraha membuat kebohongan seperti itu? Kalau sudah menyangkut pribadi, saya hadapi,” kata Nugraha sembari membagi-bagikan fotokopi surat FIFA kepada wartawan.
Adapun klub sepak bola yang keluar dari Liga Super Indonesia dan bergabung dengan LPI menyatakan tidak gentar terhadap sanksi dari PSSI. “Saya tak gubris ancaman itu,” kata Manajer Persibo Bojonegoro Letnan Kolonel Taufik Risnendar. “Kami siap,” Asisten Manajer Bagian Keuangan Persibo, Abdul Mun’im, menambahkan.
Persema Malang sudah menghitung segala risiko terburuk jauh sebelum Persema hijrah ke LPI. “Kami sudah berkomitmen dan kami pun harus kesatria menjaga komitmen itu,” kata Ketua Umum Persema Peni Suparto.
Suara senada diutarakan Direktur Manajer PSM Makassar Husain Abdullah. “Kami akan jalan, PSM tidak akan takut. Faktanya, LPI tetap jalan. Negara ini bukan yurisdiksi PSSI, masak main bola di negeri sendiri dilarang,” katanya.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Djoko Pekik mengimbau seharusnya PSSI memiliki kebijakan yang lebih arif dalam menyikapi LPI. “Kita hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan PSSI,” ujarnya.