Kadang kita berfikir kalau menjadi kaya dan
banyak harta itu pasti bisa bikin kita bahagia....
benarkah ?????
Filosofi dr kehidupan yg sebenarnya adalah :
Pernahkah kamu berpikir, untuk apa kamu
dilahirkan di dunia ini?
Pernahkah kamu berpikir, untuk apa kamu
hidup?
Memang sulit jika kita memaknai atau
memahami arti hidup sebenarnya.
Secara biologis, hidup dapat diartikan sebagai
sesuatu yang dianggap ada, nyata, bergerak,
dan dapat berkembang biak.
Tetapi apakah kamu tahu secara harfiah
apakah hidup itu?
Orang bilang : Hidup adalah perjuangan.
Definisi perjuangan itu sendiri jika kita kaji lebih
dalam sangatlah abstrak.
Perjuangan yang berasal dari kata “juang”
yang artinya “usaha” belum cukup untuk
menjelaskan arti hidup itu sebenarnya.
Jadi, pernyataan bahwa Hidup adalah
perjuangan kurang tepat.
Orang bilang : Hidup itu indah.
Definisi indah lagi-lagi kurang tepat untuk
mendefinisikan arti hidup sebenarnya.
Tidak semua orang memiliki hidup yang
indah, sebagian besar merasa hidupnya tidak
indah.
Jadi, pernyataan bahwa Hidup itu indah kurang
tepat.
Lantas? Arti hidup itu apa?
Jawabannya hanya ada di lubuk hati kita
semua.
Pertanyaan tersebut dapat dijawab sesuai arah
dan tujuan untuk apa kita hidup.
Akhirnya, kita sendiri-lah yang harus
menentukan arah tersebut bagaimanapun
caranya agar hidup kita dapat bermakna.
Oleh karena itu, arti hidup bagi setiap orang
memiliki penafsiran yang berbeda-
beda.kutipan pembicaraan sang Ulama besar
Imam Al-Ghazali :
Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri
kita di dunia ini?". Murid- muridnya menjawab
"Orang tua, guru, kawan , dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu
benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita
adalah "mati". Sebab, sesuai dengan janji Allah
SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan
mati.(Ali Imran : 185)
Kedua."Apa yang paling jauh dari diri kita di
dunia ini?". Murid-muridnya menjawab
"Negara Cina, bulan, matahari dan bintang-
bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan
bahwa semua jawaban yang mereka berikan
itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah
"masa lalu". Walau dengan cara apa sekalipun
kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh
sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-
hari yang akan datang dengan perbuatan yang
sesuai dengan ajaran Agama.
Ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab "Gunung, bumi
dan matahari". semua jawaban itu benar,
kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari
yang ada di dunia ini adalah "hawa-nafsu" (Al-
A'raaf :179). Maka kita harus berhati-hati
dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu
membawa kita ke neraka.
Keempat. "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab "besi dan gajah" Semua
jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi
yang paling berat adalah "memegang
amanah" (Al-Ahzab:72) Tumbuh-tumbuhan,
binatang, gunung, dan malaikat semua tidak
mampu ketika Allah SWT meminta mereka
untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya
menyanggupi permintaan Allah SWT,
sehingga banyak dari manusia masuk ke
neraka karena ia tidak dapat memegang
amanahnya.
Kelima. "Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Ada yang menjawab "Kapas, angin, debu dan
daun-daunan". Semua itu benar, kata Imam
Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini
adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara
pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara
bermasyarakat, kita meninggalkan sholat.
Maknai hidup dengan sebenarnya, kaya atau
miskin itu hanyalah predikat, tp bahagia itu
adalah mutlak akan dirasakan
oleh orang yg benar" memaknai apa arti dari
hidup........
karna teramat banyak contoh orang kaya yg
justru hancur dan sensara dalam kekayaannya
dan orang miskin justru bahagia
dengan kemiskinannya........
Just share teman, moga kita dapat maknai
hidup dengan sebenar" nya..
Selasa, 29 Maret 2011
Tak Diakui Pemerintah, Bendahara PSSI Pasrah
Bendahara Persatuan Sepak bola
Seluruh Indonesia (PSSI), Achsanul Qosasi,
kecewa dengan keputusan pemerintah yang tidak
mengakui PSSI di bawah kepemimpinan Ketua
Umum Nurdin Halid dan Sekjen Nugraha Besoes.
"Itu disayangkan. Saya terus terang kaget dengan
statement Pak Andi (Menpora)," ujar Achsanul
sebelum rapat Paripurna DPR di Gedung
Parlemen, Jakarta, Selasa 29 Maret 2011.
Sikap pemerintah, Achsanul memperkirakan,
diambil karena mendapat informasi-informasi
yang kurang berimbang. "Sehingga sampai
kelihatan beliau emosi menyampaikan hal ini. Tapi
kami menghargai itu," kata dia.
Tapi Achsanul meyakini hal tersebut sebagai
upaya pemerintah menghentikan kekacauan yang
ada di PSSI. "Ini mungkin cara pemerintah untuk
menghentikan kekisruhan di PSSI," kata Achsanul
yang juga politisi Partai Demokrat ini.
Hingga saat ini, Achsanul mengatakan, PSSI
secara institusi belum bersikap secara resmi
menanggapi pernyataan Menpora tersebut.
Achsanul menjelaskan PSSI hanya dapat pasrah
dan menunggu keputusan badan sepak bola
dunia FIFA.
"PSSI secara institusi tak bisa berbuat apa-apa.
Kita tak usah memanasi suasana lagi. Tunggu
FIFA saja bagaimana keputusannya," ucap
Achsanul.
Meski demikian, Achsanul menilai, PSSI sebaiknya
tetap ada secara institusi. Karena semua kompetisi
sepakbola diatur oleh PSSI. Jika PSSI dibekukan
maka semua jadwal kompetisi akan terganggu.
"Pasti akan terganggu. karena bagaimanapun
yang mengurus kompetisi itu adalah BLI (Badan
Liga Indonesia). BLI kan bagian dari PSSI, dan
semua keputusan BLI dilaporkan kepada PSSI.
Kalau PSSI dibekukan, otomatis BLI akan seperti
kehilangan induk dan juga tidak akan berani
bersikap," kata Achsanul.
Selain itu, lanjut Achsanul, Komisi Disiplin ada di
tubuh PSSI. Sementara Komisi Disiplin dan
Komisi Banding serta perangkat lainnya mestinya
dapat tetap berjalan jika ada kompetisi. Tetapi jika
kompetisi itu pun dibekukan oleh pemerintah,
menurut Achsanul, Komisi Disiplin, dan Komisi
Banding, serta perangkat lainnya itu juga otomatis
tak bisa bekerja.
"Jadi tak ada artinya mengatakan bahwa
kompetisi masih berjalan, dilakukan oleh
pemprov-pemprov. karena yang mjalankan
kompetisi saat ini adalah PSSI," kata Achsanul.
"Apakah ini sah diakui FIFA dimanapun ia akan
menyelenggarakan kompetisi dan
mengatasnamakan PSSI memimpin timnas,"
tambah Achsanul.
Lebih jauh, Achsanul meyakini FIFA akan segera
menjatuhkan sanksi kepada Pemerintah. "Saya
kok merasa yakin dengan ada kondisi ini FIFA
akan memberikan sanksi," kata Achsanul.
Sesuai aturan FIFA, jika Pemerintah
mengintervensi badan sepak bola suatu negara,
maka sanksi larangan bermain bagi tim nasional
negara bersangkutan akan dijatuhkan.
Menanggapi ancaman sanksi ini, Achsanul pun
mengaku hanya bisa pasrah.
"Kalau pemerintah membekukan kan berarti
pemerintah tidak menganggap PSSI ada. Yang
pasti dengan posisi kita dibekukan berarti kita
sudah tidak dianggap keberadaannya. Ya sudah
kita terima. Sebaiknya kita tidak melakukan
apapun. Sebaiknya kita diam saja," kata Achsanul.
Seluruh Indonesia (PSSI), Achsanul Qosasi,
kecewa dengan keputusan pemerintah yang tidak
mengakui PSSI di bawah kepemimpinan Ketua
Umum Nurdin Halid dan Sekjen Nugraha Besoes.
"Itu disayangkan. Saya terus terang kaget dengan
statement Pak Andi (Menpora)," ujar Achsanul
sebelum rapat Paripurna DPR di Gedung
Parlemen, Jakarta, Selasa 29 Maret 2011.
Sikap pemerintah, Achsanul memperkirakan,
diambil karena mendapat informasi-informasi
yang kurang berimbang. "Sehingga sampai
kelihatan beliau emosi menyampaikan hal ini. Tapi
kami menghargai itu," kata dia.
Tapi Achsanul meyakini hal tersebut sebagai
upaya pemerintah menghentikan kekacauan yang
ada di PSSI. "Ini mungkin cara pemerintah untuk
menghentikan kekisruhan di PSSI," kata Achsanul
yang juga politisi Partai Demokrat ini.
Hingga saat ini, Achsanul mengatakan, PSSI
secara institusi belum bersikap secara resmi
menanggapi pernyataan Menpora tersebut.
Achsanul menjelaskan PSSI hanya dapat pasrah
dan menunggu keputusan badan sepak bola
dunia FIFA.
"PSSI secara institusi tak bisa berbuat apa-apa.
Kita tak usah memanasi suasana lagi. Tunggu
FIFA saja bagaimana keputusannya," ucap
Achsanul.
Meski demikian, Achsanul menilai, PSSI sebaiknya
tetap ada secara institusi. Karena semua kompetisi
sepakbola diatur oleh PSSI. Jika PSSI dibekukan
maka semua jadwal kompetisi akan terganggu.
"Pasti akan terganggu. karena bagaimanapun
yang mengurus kompetisi itu adalah BLI (Badan
Liga Indonesia). BLI kan bagian dari PSSI, dan
semua keputusan BLI dilaporkan kepada PSSI.
Kalau PSSI dibekukan, otomatis BLI akan seperti
kehilangan induk dan juga tidak akan berani
bersikap," kata Achsanul.
Selain itu, lanjut Achsanul, Komisi Disiplin ada di
tubuh PSSI. Sementara Komisi Disiplin dan
Komisi Banding serta perangkat lainnya mestinya
dapat tetap berjalan jika ada kompetisi. Tetapi jika
kompetisi itu pun dibekukan oleh pemerintah,
menurut Achsanul, Komisi Disiplin, dan Komisi
Banding, serta perangkat lainnya itu juga otomatis
tak bisa bekerja.
"Jadi tak ada artinya mengatakan bahwa
kompetisi masih berjalan, dilakukan oleh
pemprov-pemprov. karena yang mjalankan
kompetisi saat ini adalah PSSI," kata Achsanul.
"Apakah ini sah diakui FIFA dimanapun ia akan
menyelenggarakan kompetisi dan
mengatasnamakan PSSI memimpin timnas,"
tambah Achsanul.
Lebih jauh, Achsanul meyakini FIFA akan segera
menjatuhkan sanksi kepada Pemerintah. "Saya
kok merasa yakin dengan ada kondisi ini FIFA
akan memberikan sanksi," kata Achsanul.
Sesuai aturan FIFA, jika Pemerintah
mengintervensi badan sepak bola suatu negara,
maka sanksi larangan bermain bagi tim nasional
negara bersangkutan akan dijatuhkan.
Menanggapi ancaman sanksi ini, Achsanul pun
mengaku hanya bisa pasrah.
"Kalau pemerintah membekukan kan berarti
pemerintah tidak menganggap PSSI ada. Yang
pasti dengan posisi kita dibekukan berarti kita
sudah tidak dianggap keberadaannya. Ya sudah
kita terima. Sebaiknya kita tidak melakukan
apapun. Sebaiknya kita diam saja," kata Achsanul.
Kisruh PSSI, Kompetisi ISL Tetap Jalan
CEO PT Liga Indonesia, Joko
Driyono menegaskan kisruh antara PSSI dan
pemerintah tidak akan mempengaruhi jalannya
kompetisi sepakbola Indonesia Superliga (ISL).
Joko memastikan itu, setelah Menegpora Andi
Mallarangeng menyatakan sikap membekukan
pengurus PSSI yang dipimpin Nurdin Halid.
"Liga Indonesia akan tetap menjalankan semua
rencana-rencana yang telah ditetapkan. Jadi
apapun keputusan pemerintah, kompetisi tidak
bisa dihentikan," kata Joko Driyono kepada antv,
Selasa, 29 Maret 2011.
Menurutnya, PT Liga sedang tidak berhadapan
dengan pihak manapun sehingga tidak ada
bayangan kompetisi akan dihentikan. "Saya
melihat tak ada spirit ke arah situ,"
Apalagi, jika Indonesia menginginkan kompetisi di
Indonesia meningkat, maka janganlah kompetisi
dibekukan, tapi justru harus ditingkatkan
kualitasnya. "Saya berharap, bila pemerintah
memang menginginkan kompetisi meningkat,
maka janganlah dibekukan, tapi justru harus
ditingkatkan," tuturnya.
Terkait pernyataan Menpora yang mengatakan
kompetisi akan dikendalikan supervisi KONI/KOI
bersama Pengprov PSSI dan klub, Joko Driyono
menegaskan semua pihak harus memahami
persoalan.
"Sekarang banyak yang peduli sama sepakbola.
Tapi satu hal harus diketahui, kompetisi berjalan
sesuai regulasi," jelasnya.
Driyono menegaskan kisruh antara PSSI dan
pemerintah tidak akan mempengaruhi jalannya
kompetisi sepakbola Indonesia Superliga (ISL).
Joko memastikan itu, setelah Menegpora Andi
Mallarangeng menyatakan sikap membekukan
pengurus PSSI yang dipimpin Nurdin Halid.
"Liga Indonesia akan tetap menjalankan semua
rencana-rencana yang telah ditetapkan. Jadi
apapun keputusan pemerintah, kompetisi tidak
bisa dihentikan," kata Joko Driyono kepada antv,
Selasa, 29 Maret 2011.
Menurutnya, PT Liga sedang tidak berhadapan
dengan pihak manapun sehingga tidak ada
bayangan kompetisi akan dihentikan. "Saya
melihat tak ada spirit ke arah situ,"
Apalagi, jika Indonesia menginginkan kompetisi di
Indonesia meningkat, maka janganlah kompetisi
dibekukan, tapi justru harus ditingkatkan
kualitasnya. "Saya berharap, bila pemerintah
memang menginginkan kompetisi meningkat,
maka janganlah dibekukan, tapi justru harus
ditingkatkan," tuturnya.
Terkait pernyataan Menpora yang mengatakan
kompetisi akan dikendalikan supervisi KONI/KOI
bersama Pengprov PSSI dan klub, Joko Driyono
menegaskan semua pihak harus memahami
persoalan.
"Sekarang banyak yang peduli sama sepakbola.
Tapi satu hal harus diketahui, kompetisi berjalan
sesuai regulasi," jelasnya.
Gusti Randa: Keputusan Menpora Tidak Tegas
Jakarta, Menteri Pemuda dan
Olahraga sudah memutuskan tak lagi mengakui
kepengurusan PSSI di bawah ketua umum
Nurdin Halid. Menanggapi hal tersebut, Gusti
Randa menyebut kalau Menpora tidak tegas
mengambil keputusan.
"Apa yang diungkapkan Menpora menurut saya
tidak tegas karena masih menunggu sikap FIFA.
Masih ada apabila, apabila, apabila. Kalau masih
banyak apabila itu bukan sebuah keputusan. Itu
tidak menunjukkan ketegasan," sahut Ketua
Badan Futsal Nasional Gusti Randa dalam dialog
yang ditayangkan di MetroTV.
Setelah kongres pemilihan komite pemilihan dan
komite banding batal digelar akhir pekan lalu,
pemerintah melalui Menpora akhirnya
mengambil sikap. Menpora menyatakan tidak
mengakui lagi Pengurus PSSI di bawah
pimpinan Ketua Umum Nurdin Halid dan
Sekretaris Jenderal Noegraha Besoes, serta
seluruh kegiatan keolahragaan yang
diselenggarakan kepengurusan PSSI tersebut.
Dalam pernyataan yang dibuat setelah melakukan
pertemuan dengan Ketua KONI Pusat Rita
Subowo, Andi Mallarangeng memang menyebut
kalau pemerintah masih akan menunggu
keputusan FIFA terhadap kongres yang
kemudian digelar oleh 78 pemilik suara PSSI.
Disebutkan, jika FIFA memberi tanggapan positif
maka Pemerintah bersama KONI/KOI
mendukung segera dilaksanakannya kongres
PSSI untuk memilih Ketua Umum, Wakil Ketua
Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI
Periode 2011-2015.
Namun jika FIFA bersikap lain, maka Pemerintah
bersama KONI/KOI mendukung segera
diselenggarakannya kongres PSSI untuk memilih
Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan
yang baru, dan selanjutnya melaksanakan
kongres pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua
Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI
Periode 2011-2015.
"Tidak ada pembekuan, yang ada hanya
mengakui dan tidak mengakui. Mengakui dan
tidak mengakui (kepengurusan PSSI) itu terletak
pada anggota (pemilik suara PSSI), karena itulah
pentingnya sebuah kongres. Kalau diakui ya
dipilih lagi kalau tidak diakui ya tidak dipilih lagi."
"Apa yang dikatakan Menpora itu tidak ada apa-
apanya. Hanya sebagai ketidakpercayaan," tuntas
pria yang juga menjabat sebagai salah satu
panitia pelaksana kongres di Pekanbaru lalu.
Olahraga sudah memutuskan tak lagi mengakui
kepengurusan PSSI di bawah ketua umum
Nurdin Halid. Menanggapi hal tersebut, Gusti
Randa menyebut kalau Menpora tidak tegas
mengambil keputusan.
"Apa yang diungkapkan Menpora menurut saya
tidak tegas karena masih menunggu sikap FIFA.
Masih ada apabila, apabila, apabila. Kalau masih
banyak apabila itu bukan sebuah keputusan. Itu
tidak menunjukkan ketegasan," sahut Ketua
Badan Futsal Nasional Gusti Randa dalam dialog
yang ditayangkan di MetroTV.
Setelah kongres pemilihan komite pemilihan dan
komite banding batal digelar akhir pekan lalu,
pemerintah melalui Menpora akhirnya
mengambil sikap. Menpora menyatakan tidak
mengakui lagi Pengurus PSSI di bawah
pimpinan Ketua Umum Nurdin Halid dan
Sekretaris Jenderal Noegraha Besoes, serta
seluruh kegiatan keolahragaan yang
diselenggarakan kepengurusan PSSI tersebut.
Dalam pernyataan yang dibuat setelah melakukan
pertemuan dengan Ketua KONI Pusat Rita
Subowo, Andi Mallarangeng memang menyebut
kalau pemerintah masih akan menunggu
keputusan FIFA terhadap kongres yang
kemudian digelar oleh 78 pemilik suara PSSI.
Disebutkan, jika FIFA memberi tanggapan positif
maka Pemerintah bersama KONI/KOI
mendukung segera dilaksanakannya kongres
PSSI untuk memilih Ketua Umum, Wakil Ketua
Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI
Periode 2011-2015.
Namun jika FIFA bersikap lain, maka Pemerintah
bersama KONI/KOI mendukung segera
diselenggarakannya kongres PSSI untuk memilih
Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan
yang baru, dan selanjutnya melaksanakan
kongres pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua
Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI
Periode 2011-2015.
"Tidak ada pembekuan, yang ada hanya
mengakui dan tidak mengakui. Mengakui dan
tidak mengakui (kepengurusan PSSI) itu terletak
pada anggota (pemilik suara PSSI), karena itulah
pentingnya sebuah kongres. Kalau diakui ya
dipilih lagi kalau tidak diakui ya tidak dipilih lagi."
"Apa yang dikatakan Menpora itu tidak ada apa-
apanya. Hanya sebagai ketidakpercayaan," tuntas
pria yang juga menjabat sebagai salah satu
panitia pelaksana kongres di Pekanbaru lalu.
Menpora: Pemerintah Ingin Selamatkan PSSI
Jakarta, Menpora Andi
Mallarangeng menyatakan bahwa sikap
pemerintah yang tidak lagi mengakui dan
membekukan kepengurusan Nurdin Halid
merupakan upaya untuk menyelamatkan PSSI.
Hal tersebut dikatakan Andi di Istana Bogor, Jawa
Barat, Selasa (29/3/2011), menyusul kebijakannya
atas nama pemerintah untuk tidak lagi
mengakui PSSI di bawah kendali Nurdin Halid.
Semua aktivitas persepakbolaan diambil alih dan
diawasi oleh KONI/KOI.
"Sikap pemerintah sudah jelas dan pemerintah
tidak bisa lagi memberikan fasilitas pelayanan
kepada kepengurusan PSSI yang sekarang ini,
dan seluruh kegiatan keluarganya, sampai
terbentuk pengurus yang baru yang kredibel
sesuai aturan-aturan FIFA dan standar
kekeluargaan seluruh Indonesia," tutur Andi.
"Berkomunikasi dengan FIFA dan KONI/KOI
untuk mencari solusi yang terbaik dalam rangka
agar segera terbentuk kepengurusan baru
periode 2011-2015 dari PSSI. Kita harus
menyelamatkan PSSI. Organisasi PSSI adalah
milik bangsa Indonesia. Hanya pengurusnya ini
tidak lagi diakui pemerintah."
Menpora menambahkan, pihaknya dan KONI/
KOI terus melakukan komunikasi dengan FIFA,
antara lain untuk menunjukkan bahwa tidak ada
lagi monopoli akses terhadap badan sepakbola
dunia itu.
"Dulu seolah-olah, seakan-akan hanya pengurus
PSSI yang bisa. Kata FIFA begini-begitu, ternyata
berbeda dari yang dikatakan langsung dengan
FIFA. Kita sudah mencari solusi terbaik," tukas
menteri yang juga politisi dari Partai Demokrat
itu.
Mengenai pernyataan Nurdin Halid yang meminta
Presiden SBY untuk memecat dirinya, Andi
mengaku menanggapinya dengan tertawa saja.
Ia juga siap menghadapi apabila Nurdin akan
menggugat dirinya.
"Namanya warga negara, silakan saja kalau mau
melakukan gugatan. Pemerintah melakukan
kebijakannya berdasarkan peraturan yang
berlaku di Republik Indonesia. Dan karena itu
maka harus bisa diperjuangkan sesuai peraturan
perundang-undangan," jawab Menpora.
Mallarangeng menyatakan bahwa sikap
pemerintah yang tidak lagi mengakui dan
membekukan kepengurusan Nurdin Halid
merupakan upaya untuk menyelamatkan PSSI.
Hal tersebut dikatakan Andi di Istana Bogor, Jawa
Barat, Selasa (29/3/2011), menyusul kebijakannya
atas nama pemerintah untuk tidak lagi
mengakui PSSI di bawah kendali Nurdin Halid.
Semua aktivitas persepakbolaan diambil alih dan
diawasi oleh KONI/KOI.
"Sikap pemerintah sudah jelas dan pemerintah
tidak bisa lagi memberikan fasilitas pelayanan
kepada kepengurusan PSSI yang sekarang ini,
dan seluruh kegiatan keluarganya, sampai
terbentuk pengurus yang baru yang kredibel
sesuai aturan-aturan FIFA dan standar
kekeluargaan seluruh Indonesia," tutur Andi.
"Berkomunikasi dengan FIFA dan KONI/KOI
untuk mencari solusi yang terbaik dalam rangka
agar segera terbentuk kepengurusan baru
periode 2011-2015 dari PSSI. Kita harus
menyelamatkan PSSI. Organisasi PSSI adalah
milik bangsa Indonesia. Hanya pengurusnya ini
tidak lagi diakui pemerintah."
Menpora menambahkan, pihaknya dan KONI/
KOI terus melakukan komunikasi dengan FIFA,
antara lain untuk menunjukkan bahwa tidak ada
lagi monopoli akses terhadap badan sepakbola
dunia itu.
"Dulu seolah-olah, seakan-akan hanya pengurus
PSSI yang bisa. Kata FIFA begini-begitu, ternyata
berbeda dari yang dikatakan langsung dengan
FIFA. Kita sudah mencari solusi terbaik," tukas
menteri yang juga politisi dari Partai Demokrat
itu.
Mengenai pernyataan Nurdin Halid yang meminta
Presiden SBY untuk memecat dirinya, Andi
mengaku menanggapinya dengan tertawa saja.
Ia juga siap menghadapi apabila Nurdin akan
menggugat dirinya.
"Namanya warga negara, silakan saja kalau mau
melakukan gugatan. Pemerintah melakukan
kebijakannya berdasarkan peraturan yang
berlaku di Republik Indonesia. Dan karena itu
maka harus bisa diperjuangkan sesuai peraturan
perundang-undangan," jawab Menpora.
Langganan:
Postingan (Atom)
